Airbag

Airbag atau kantong udara sudah menjadi sebuah kelengkapan standar pada kendaraan keluaran terbaru.

Airbag

Fungsi Airbag

Fitur ini merupakan salah satu fitur keselamatan pasif yang ada pada agen idn poker, sebab airbag sendiri bekerja untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan yang bisa lebih parah. Airbag akan secara efektif meredam tabrakan forntal yang terjadi jika dibarengi dengan penggunaan sabuk pengaman secara tepat. Keduanya merupakan fitur keselamatan yang saling melengkapi satu sama lain untuk menghindari cidera serius yang diakibatkan oleh kecelakaan.

Instruktur Senior dari Safety and Defensive Driving Consultant Indonesia atau singkatnya SDCI, Sony Susmana, mengatahakan bahwa ledakan pada airbang terjadi dalam waktu yang sangat cepat, yakni hanya sepersekian detik saja. Sehingga, jika anda tidak menggunakan seat belt, maka sama saja anda membiarkan wajah dan tubuh anda tertampar ledakan airbag yang justru menyebabkan cidera yang lebih parah.

Airbag sendiri sebenarnya hadir sebagai pengaman tambahan. Pasalnya, dengan sabuk pengaman saja dirasa belum cukup dalam menahan benturan saat tabrakan terjadi. Sementara airbag dan seat belt bekerja secara pasif saat kecelakaan terjadi, fitur keselamatan yang aktif akan bekerja terlebih dauhulu sebelum insiden terjadi, yakni anti-lock braking system, brake assist, electronic brake force distribution, traction control, vehicle stability control, dan hill start assist.

Proses Airbag Meledak

Sebelum airbag hadir, sabuk pengaman dan struktur rangka cumple zone menjadi dua fitur keselamatan pasif yang paling diminati di dunia otomotif. Sampai akhirnya banyak orang yang menyaankan sebuah bahan peledak yang ada pada roda kemudi. Airbag memang terbuat dari bahan peledang, namun airbag tetap bisa menyelamatkan nyawa para pengendara.

Ide airbag untuk otomotif sendiri berasal dari tahun 1950-an. Awalnya sebuah gas yang terkompresi mengisi sebuah kantong sengaja disematkan pada mobil sebagai pengaman tambahan. Namun, desain ini tidak berkembang dengan baik. Cara satu – satunya agar airbag bisa memuai dengan cepat adalah dengan memanfaatkan bahan peledak. Hal ini bisa didapat lewat reaksi kimia yang menghasilkan gas untuk mengisi kantong airbag tersebut. Airbang sendiri umumnya mengembang pada waktu yang sangat singkat, bahkan tidak sampai 1 detik. Bisa dibayangkan ilustrasinya seperti 1 kedipan mata saja. Hal ini bisa terjadi karena kerja airbag didukung oleh sensor, inflator, dan electronic control unit yang saling bekerja sama. Sehingga, jika sebuah tabrakan terjadi, sensor akan mengirimkan sinyal kepada ECU, yang diteruskan kepada inflator di aman airbag tersebut dipasang, seperti setir, dasbor, atau di bagian sisi pengendara dan penumpang. Sinyal dari ECU inilah yang akan mengembangkan airbag.

Dalam inflator airbag, terdapat mekanisme listrik berupa kawat tipis. Jika dilewati arus listrik, maka kawat tersebut akan membakar propelan airbag yang mengandung bahan kimia. Hasil pembakaran ini kemudian menciptakan gas nitrogen untuk meniup airbag. Namun, proses menggelembungnya airbag ini tidak sesederhana yang kita kira. Banyak sekali airbag yang rusak dan menimbulkan sejumlah korban jwa dan cidera di seluruh dunia justru saat tidak terjadi tabrakan. Program recall yang diadakan beberapa pabrik dilakukan untuk bisa menyiasati hal tersebut.

Menurut BBC, seridaknya ada 100 juta airbag Takata yang telah ditarik kembali sejak masalah terkait airbag ini muncul pada tahun 2007 di seluruh dunia. Airbag rusak ini bahkan sudah menyebabkan puluhan kecelakaan dengan lebih dari 100 luka ringan di seluruh dunia. Hal ini menyebabkan perusahaan Jepang tersebut harus membayar denda sebesar 1 miliar dolar AS karena menyembunyikan cacat berbahaya pada airbagnya. Akhirnya recall airbag Takata disebut menjadi penarikan terbesar dalam sejarah otomotif karena melibatkan sejumlah pabrikan otomotif terbesar di dunia.

Mencegah dan Menghilangkan Karat Pada Mobil

Penyebab airbag meledak dengan cara yang tidak semestinya karena adanya fluktuasi suhu dan kelembaban yang kemudian menyebabkan kuwalitas bahan kimia pada inflator menurun. Ketika sebuah kendaraan beralih dari menerima panas matahri menjadi dingin, perubahan suhu yang ekstrem mampu mengubah ammonium nitrate dari satu fase ke fase yang lain. Senyawa tersebut kemudian menyerap lembab dari udara dan mudah rusak setelah mengalami rangkaian kejadian tersebut. Sehingga, tidak heran jika mobil – mobil yang sudah lama dan tinggal di daerah panas dan lembab memiliki risiko besar atas cacatnya airbag.

Blomquist mengatakan bahwa desain inflator yang sama bisa menyebabkan udara lembab masuk ke inflator secara perlahan, sehingga propelan yang sensitif pada kelembaban akan turun secara perlahan karena fluktuasi suhu. Propelan yang rusak akan terbakar lebih cepat dan telalu menekan rumah baja inflator yang bisa menyebabkan fragmentasi.

Kiriman serupa